Menjenguk.
Saya selalu bingung, memulai kata pertama kemudian menjadi kalimat dan paragraf sempurna seperti sebelumnya, lamban lagi, saya kembali berjarak dengan halaman ini, seperti reda, padahal selalu hangat, bahkan sudah tertimbun pada draf-draf yang entah kenapa, mereka nyaman dipandang di sana. Tetapi, kali ini mencoba lagi, semoga tidak hilang, rasanya, cara membacanya, atau bahkan ada sesuatu yang bisa diambil, baiknya saja, yang buruk buang saja jauh-jauh.
Tiga puluh tiga kali, judul lagu perunggu yang jadi juara playlist akhir-akhir ini, pada saya juga mungkin kamu. Agak relate, ketika teman saya menuliskan caption sedikitnya bercerita tentang lagu-lagu yang kita putar juga perlu "disengaja" dipilih sesuai apa yang kita butuh kan dan kita mau. Selayaknya makanan, yang kita konsumsi, barangkali sedikitnya punya makna yang sama. Mendengar itu, seperti melihat saya kurang lebih satu tahun terakhir. Melamban, bermalas-malasan, bagian yang banyak gagalnya, tidak paham dengan mata kuliah, dan hal-hal pahit lain yang kalau saya nyaman, akan tetap seperti itu, berhenti, pada titik. Tetapi, banyak hal yang tumbuh pada langkah yang melamban, pada bicara yang redup, pada keadaan yang diam, dan tenang itu. Saya semakin tenang, ketika matahari pun butuh terbenam, untuk kembali bersinar esok harinya, dan cobalah untuk lebih banyak berada di posisi seperti itu, seminimalnya untuk tetap egois tidur minimal lima jam, makan buah yang tidak harus menunggu Sabtu atau hari minggu, atau bahkan meminum vitamin tidak harus menunggu sakit, tapi sebelumnya, yang akhir-akhir ini jauh banyak melihat ke sana, karena ternyata, untuk menciptakan dunia yang senang, yang hangat, dan mimpi-mimpi yang menunggu itu, perlu sehat dan syukur yang cukup.
Dunia memberi lebih banyak, dari apa yang saya minta. Seperti misalnya, saya hanya ingin belajar, di mana pun, kapan pun, bersama siapa pun, tetapi lebihnya dikasih kesempatan buat jalan-jalan juga misalnya, atau bahkan sekedar ditanya kabar oleh kedua orang tua saja rasanya cukup, tetapi saya dikasih lebih oleh teman-teman yang selalu menanyakan kabar pada setiap pagi, atau setiap pekan itu. Atau kesempatan, bahkan kota-kota yang tidak masuk pada catatan kecil ditahun ini, malah muncul dari prioritas yang lain, barangkali rezeki tidak selalu tentang uang, lagi-lagi saya mencicipi itu.
Kata Ibu, untuk bisa cukup. Kita harus merasa cukup, kalau saya menulis ini sama dengan memecahkan celengan rasa rindu itu, sudah pasti saya lakukan setiap hari, saya kangen berat, pada kedua orang tua saya, terutama adik saya, yang akhir-akhir ini sering minta banyak pernak pernik buat aquarium nya itu. Belajar merasa cukup, selain pada keadaan, juga ternyata perlu pada perasaan yang kita temui mungkin, kadang lupa, pada bahagia yang bisa saja besok hilang, pada sedih yang rasanya akan lama seperti itu terus, padahal semua siklus, tapi yang namanya penerimaan, selalu susah ditelan dulu, baru bisa tau, oh ini begini.
Menambah satu angka, setelah angka dua puluh, semoga apa-apa yang sudah diberi semesta, bisa benar-benar saling dijaga dan menjaga, pun kepada siapa pun yang kita sayangi, yang menyayangi, yang memberi dan saling memberi, mereka merasa cukup, dengan punya kita. Semoga pohon sabar dan ikhlas itu, berbuah manis. Melihat semua yang telah, sedang terjadi, ternyata yang berhasil bukan saya, tapi barangkali orang tua saya, berhasil meluruhkan dunia untuk bisa berbaik kepada anak-anaknya, memberikan semangat yang banyak untuk langkah yang terkadang gontai, membuat dunia berbaik membuka pintu kesempatan, dan dipeluk oleh banyak "tidak apa-apa" ketika pintu itu tertutup, dunia memberikan teman-teman yang baik, yang kata ibu pantas untuk sesuatu yang baik juga, semoga tetap seperti itu.
Tidak ingin ditutup, rasanya, semoga setiap orang punya cara masing-masing untuk menemukan rasa senang, menjaga sehat, dan mencari kesempatan lewat langkah dan tangan mereka. Semua itu, bukan untuk jadi yang paling, hanya, barangkali dari kamu yang memaksimalkan apa yang kamu punya, kamu bisa menciptakan garis lengkung pada wajah kedua orang tua kamu, orang-orang yang kamu sayangi, dan yang mendukung kamu. Kembali lagi, saya senang mengulang ini, setiap orang punya porsi dan waktunya masing-masing untuk menjadi matahari, yang akan bersinar, juga terbenam, yang akan bertumbuh, juga akan menemukan versi redupnya. Terima kasih, ya. Jalanmu, akan sepanjang niatmu juga dalam mengaruhi hidup, simpan tegar kamu dalam hati, girl.
..terus berenang, lanjutlah mendaki..
Komentar