Agustus ; Let's be Legowo.
Tulisan ini masih hangat, ditulis sembari mendengarkan lagu Bunga Citra Lestari yang berjudul selalu ada di Nadimu. Dulu, saya mendengar lagu ini karena film animasi yang berjudul JUMBO, haha seru. Barangkali lagu ini, mewakili bagaimana Agustus, telah berlalu, semoga punya kesan yang baik, pada tempat yang sempat saya kunjungi, juga orang - orang yang ada di dalamnya.
Pertama, mari saya mulai dengan perjalanan ke Solo, dengan niat bertemu Ibu, kalau dihitung tahun ini baru bertemu tiga kali, selain itu kami biasa, melakukan ritual anak rantau, ngobrol via vidio call. Saya tidak punya alasan 'ada siapa' di Solo, hanya, ada mimpi yang belum sempat menyapa, sebab, Solo akan tetap jadi alasan, untuk kemana lagi? selain di Solo, sebab jawabannya, yang pasti ada di sana, coba saja pergi ke Solo. Semoga, kalian menemukan salah satu alasannya.
Kalau menjelaskan orang yang menyayangi kita, jelas bingung. Usia seperti saya ini, hanya baru punya do'a, semoga tetap di samping seperti ini, memeluk, bagaimanapun rupa, hasil dan apa yang ada pada mbaa, ma. Sebab, perjalanan mencari pengalaman pertama hidup, masih banyak gegabah juga langkah yang gontai, semoga sabar, pada proses, juga hasilnya nanti. Semoga, sehat, supaya bisa menemani sampai pada mata yang saling berbinar, merealisasikan cita cita kita, seperti yang sering kita bicarakan lewat reels di instagram, teras rumah, dapur, juga kamar itu. Semoga Allah jaga, hangatnya.
Satu lagi, salah satu jawaban pada pertanyaan "kriteria pasangan kamu, apa?.". Kayaknya, kalau beliau punya kekuatan se Bumi sedunia, semua akan diberi, pada anak - anaknya, sulit. Sulit, menjelaskan hal - hal yang tidak bisa ditangkap oleh kamera, sebab, kasih sayang itu tidak berwujud, pada lensa juga warna - warna mata. Tapi pada hati, yang mendengar, merasakan dan berdo'a, lagi, untuk mereka. Sama, semoga tetap di samping, dengan sehat. Bapak ini, suka sekali jalan - jalan, sementara, anaknya dulu yang jalan - jalan, setelah itu, semoga ringan tanggannya, untuk bergantian bisa bapak yang jalan - jalan. Semoga, Allah mampukan, menjaga, sekaligus memberi dengan mudah juga dengan baik, aamiin.
"Jaman dulu, mana ada beginian ya maa. Enak". Ujar bapak.
Saya menyukai, teori hari minggu itu hanya ada satu. Supaya manusia, bisa menunggu, bisa punya excited, bisa merasa punya tujuan, bisa bersyukur, karena hanya ada satu, satu hari libur, pada rasa keterbatasan, justru, bagian 'senang'nya lebih dapat. Beginilah, barangkali mungkin bisa melakukan ini setiap pekan, tapi bagian 'cukup' selalu diajarkan, diberitahu, tanpa teori yang panjang. Sesekali, nanti kita coba lagi, ya. Dengan banyak topping, sementara, ini dulu.
Kedua, Agustus ini, justru bertemu banyak orang yang mungkin, itu menjadi kendali kita. Bagaiaman memilih, memberi yang akhirnya mana yang harus dijaga, sebab manusia dengan keterbatasan, maka menjaga yang menjaga kita, perkara akan dijaga balik, sudah bukan menjadi ranah kita, perkara respon dan perlakuan, juga bukan ranah kita. Seperti misalnya, ketika kita sibuk memikirkan respon pada orang lain atas perkataan kita. Justru, ada bagian yang bisa kita kendalikan, yaitu apa yang akan kita sampaikan, perkara perkara apa yang menjadi kendali kita, terkadang manusia lalai, juga saya sendiri, sebab itu membagi energy dengan baik, untuk siapa, kapan, juga hal yang penting. Noted.
Ketiga, perihal waktu, sebenarnya manusia berhak untuk memberi pada prioritas mana, hidup memang seni berpolitik dengan baik juga bijak, karena manusia berjalan pada kepentingannya masing - masing. Dan perihal waktu yang sudah berjalan, barangkali dalam proses berteman, berdampingan mencari kepentingan dalam hidup masing - masing, banyak hal yang justru membuat sesak hati, membuat berisik isi kepala, hidup hanya satu kali ini, untuk belajar pada proses menghargai rasa senang pada orang lain, ternyata bukan perkara 'ngga usah iri, dosa' semua perihal preferensi, bagaimana setiap manusia memulai memilih pada pilihan dengan resiko yang berbeda, apa yang ia miliki, dan itu bagian dari manusia melihat manusia.
Yang ke Lima, enam, tujuh dan seterusnya. Mengerti adalah bagian dari manusia, tetapi perihal memahami, adalah ranah tuhan. Saya menyukai kalimat itu, sebab membaca manusia, penuh dengan keterbatasan, barangkali prasangka yang muncul justru bias, pada realita yang sebenarnya. Maka di Bumi, manusia dikenalkan dengan istilah berbicara, menyampaikan, mengungkapkan, semoga setiap manusia, tidak sungkan memberi itu.
Terima kasih, sudah turut memberi warna. Pada bulan Agustus, saya senang, semoga teman - teman juga. Lagi - lagi, saya berdo'a. Semoga sama - sama bisa menjadi manusia yang bisa menghargai rasa senangnya orang, menjaga yang bisa dijaga, dan menjadi manusia yang baik, dari apa yang mereka lihat, dari apa yang mereka punya, serta dari hati yang baik, sebab kata lebih dari kata, bahkan telinga yang banyak sekalipun menerima kata, tidak cukup, bila tidak ada hati di sana. Tetap menjadi manis, pada segala perilaku, memberi senyum yang tidak harus kepada 'siapa' sebab berjalan di Bumi, juga mencari apa yang akan dibawa pulang, hidup hanya sekali, semoga bisa menjadi baik.
Love, arrum.
Komentar