It's Me Vs Me.

 It's Me Vs Me.


    Sekali mendayung, dua pulau terlewati. Kurang lebih begini, nasib saya sebagai mahasiswa akhir. Konon, kata orang bijak, hidup jika sedang berat berarti sebentar lagi akan sampai puncak. Iyaa, kah?.
Hampir sepekan ini, lebih banyak mendengar bahkan memberi ruang pada diri sendiri, hidup sejak dulu memang berteman dengan deadline. Tapi kali ini, rasanya sampai kunang - kunang. Tidur lebih sedikit, tetapi bangun harus tetap pagi. Hidup yang bertemu banyak ekspetasi manusia, bukan berarti harus dituruti. Hidup yang beragam 'titipan' bukan berarti harus diselesaikan. Saya jadi teringat, tentang pertanyaan sebenarnya berjalan seperti ini, untuk siapa, sampai kapan, dan buat apa?. 


    Satu bulan kemarin, hampir seluruh mata kuliah mengharuskan kami untuk banyak observasi baik itu di laboratorium ataupun di masyarakat. Jadi sekarang, kami sedang merawat laporan - laporan yang ternyata harus bimbingan ke sana kemari. Hari ini, agaknya semua orang sedang ingin didengar. Dan tidak apa - apa. Pagi tadi, kami ada kuliah pakar, banyak berdikusi dan ngobrol tentang 'issue yang ada di Indonesia' how kalimat keramat kami 'when ya' keluar dengan seribu gelisah, bagian anak muda yang kedapetan 'tugas kalian yang akan merubah Indonesia'. Hais, hehe.

     Photo yang saya lampirkan di atas, adalah bimbingan pertama hari ini. Kalau diingat, satu bulan yang lalu kami mengambil data selama satu bulan disatu kelurahan, setelah mengolah beginilah rutinitasnya, minta arahannya, pak. Setelah itu, kami harusnya ada bimbingan dua kali lagi, tetapi karena waktunya tidak ada, jadi kami undur, mungkin besok. 


    Photo ini, kami sedang mengantre untuk bimbingan mata kuliah yang lain. Hidup isinya project - project alias apa - apa harus dicoba hehe. Setelah itu kami ada praktikum, saya suka  dengan praktikum ini, kami menyebutnya dietetika. Kebetulan hari ini dapat kasus kanker dan juga pasien luka bakar. Ya, kurang lebih kami diskusi kira - kira asupan seperti apa yang harus diberikan kepada pasien. Saya menikmati, ketika antar kelompok saling bertanya, beradu argumen. Ternyata, waktu membawa kami sejauh ini. 
    Pukul 16.20 dosen menutup praktikum, sekaligus meminta maaf. Kurang lebih seperti ini.

"Dek, sebelumnya kami menyadari bahwa semester kalian ini. Bebannya cukup berat dan banyak. Banyak mahasiswa yang ingin bertemu saya, hanya untuk bercerita. Dan saya menerima konsekuensi itu." 

Kami yang sedang berkemas, kemudian berhenti, sejenak banyak mendengar, menyimak, entah kenapa air mata tiba - tiba sopan saja jatuh. Hidup yang satu kali ini, lebih banyak memikirkan kemungkinan yang belum terjadi rasanya sia - sia, hanya sejak perlu dinikmati. 

"Tadi, saya salah fokus, dek. Ada mahasiswa kakak tingkat kalian yang sedang berwisuda hari ini mirip dengan *** (menunjuk salah satu mahasiswa di kelas kami), saya pikir ini wisuda angkatan kalian" Ibu dosen melanjutkan, "Sekali lagi, porsi kalian memang seperti ini dek, di lapangan akan jauh lebih banyak ditempa. Jadi tolong saling bergandengan, kedepan akan jauh lebih cepat, lebih panjang dan mungkin lebih berat." 

*jujur, nangis.

"Loh, kok pada nangis."
"Janji ya dek, tahun depan. Saya ingin lihat kalian pada wisuda, bergantian dengan kakak tingkat kalian seperti ini."

    Ada satu hal yang membawa saya pada sudut pandang baru. Bahwa ternyata dengan keterbatasan waktu, membawa saya untuk jauh lebih banyak melihat diri sendiri, walaupun tidak dipungkuri di tengah jalan ini, melihat orang - orang berjalan lebih cepat, atau bahkan sampai tujuan lebih awal. Tapi ternyata ini hanya tentang It's Me Vs Me. Seperti contohnya, kemarin 16 tahun yang lalu saya mungkin belum bisa makan sendiri, masih butuh 'bantuan' untuk disuapkan. Tapi hari ini, bahkan lebih dari makan sendiri, saya bisa masak sendiri, walaupun alih - alih hanya telur goreng dan kecap asin. Hehe.

    Orang - orang sebetulnya hanya punya waktu sepuluh menit untuk perduli, memperhatikan, mempertanyakan bahkan penasaran dengan kita. Tetapi, setelah lebih dari waktu itu mereka melupakan, sebagian besar seperti itu. Dan kenapa tidak, dalam hal ini proses orang hanya cukup untuk dilihat, sebagai motivasi, tapi selanjutnya perannya justru ada pada kendali saya, saya mau jadi pemain juga atau justru kebanyakan menjadi penonton. Sekali lagi, It's Me Vs Me. Waktu awal menjadi mahasiswa, saya mungkin tidak mahir menghitung kebutuhan pasien, sekarang saya bisa, walaupun enggak hafal amat sih, hehe. Jadi, It's Me Vs Me bagian melihat diri kita yang kemarin dengan hari ini diluar dari pada 'kemauan' yang mengikuti kita tentang kita mau jadi lebih baik tidak dari yang kemarin, sebab apa yang kita lakukan hari ini, justru jadi manisfestasi 'kita' di masa depan. 



    Kata orang bijak, kalau perjalanan kita di compare dengan perjalanan orang lain, maka bertemunya adalah rasa 'kurang' karena masing - masing dari kita punya bekal yang berbeda, punya batu kerikil yang berbeda, bahkan garis start yang berbeda. Sesederhana, memaksa memakai sepatu orang lain, hanya karena sepatunya lebih bagus, tetapi tidak nyaman ketika dipakai, karena 'ukurannya' berbeda. It's Me Vs Me semoga menjadi bekal baru, bahwa kita hanya perlu bertanggungjawab pada takdir yang terjadi pada kita, apa - apa yang sedang dirasakan, yang membersamai, bahkan yang kita pakai hanya sebagai titipan. Semua bisa hilang, semua bisa mengecewakan. 
     Pada edisi Juni bercerita ini, semoga bisa terus tumbuh di hari-hari yang lain juga. Sampai bertemu pada paragraf yang lain teruntuk tokoh dan tempat-tempat seru bahkan pada 'point of view' yang lain. Terima kasih sudah membaca sampai akhir pada tulisan saya yang masih terbata-bata ini. Klau ketemu yang buruk ditinggal saja ya, kalaudapat yang baik. Semoga jangan dibuang. 

                                                                                                                        Hehe, ngeluarin draft.




Komentar