Manusia yang sedang mengembara; itu saya.

 Manusia yang sedang mengembara; itu saya.


    Saat menulis ini, saya tengah mendengarkan lagunya feast yang berjudul nina. Sejauh ini, saya tidak bosan kerap mengulangi lima kali sampai sepuluh, pesannya tetap nempel. Tulisan ini lahir dari perjalanan mengembara saya selama empat hari saat mencari responden balita. Balita berjumlah 55 dan 3 pasien di Puskesmas. Jangan tanya keadaan saya, tolong do'akan saja, semoga sehat, semoga selesai dengan baik. Praktikum, kegiatan mencari data balita dan pasien ini dalam rangka menyelesaikan praktikum dua mata kuliah. Saya tidak akan menjelaskan banyak dan detail, hanya beberapa kali menyapa responden, ada beberapa hal yang ternyata sederhana di dengar, tetapi tidak.
    Pertama, saya jadi semakin relate dan punya gambaran ketika bekerja nanti, ritmenya akan seperti ini. Untuk sekarang masih kaku dan terpontang - panting. Bahkan, saya jadi menyukai pukul dua siang karena bisa berkemas dan pulang. Saya tidak sendiri, ada teman-teman kelompok lain. 


"Dah tau kan, nunggu jam dua siang rasanya kaya gimana?." 

    Kalimat itu akhirnya semakin relate, relate dengan membuka handphone jadi salah satu curi-curi moment, atau bahkan sekedar waktu tunggu lima belas menit saja tidur sejenak jauh lebih menggiurkan dari pada membuka instagram. Saya bingung, menjelaskan detail-detail itu. Tetapi saya sedang mengembara, membawa apa yang saya punya, dan bisa untuk dibagi, menjadi manfaat dan orang senang. Yang padahal, saya jauh lebih banyak menerima, belajar.

"Dek, gantiin saya sebentar ya. Buat ngobrol sama pasien." Ucap CI (Clinical Instructor)

    Saya takut, takut berbicara dan menjawab ngasal. Sekaligus tidak percaya, sebab saya tidak dalam percobaan pada manusia. Tanggung jawabnya besar, juga pada apa yang terlihat sebenarnya jauh dari apa yang dipikirkan. Terima kasih, sudah memberi ladang untuk saya mengembara. Mencari, dan menemukan. Saat saya memberi konseling, feed back dari pasien, membuat saya paham. Bahwa, ada banyak hal yang mengantarkan mereka bertemu saya. Permasalahannya, banyak dan beruntun, tidak cukup dengan satu ompreng kemudian selesai, ah!.
    Banyak hal yang menggetarkan hati, sekaligus membuka ruang untuk sejenak reda dan bertanya. Perihal 'apa yang dimakan' bukan sekedar kenyang, tapi tentang kebingungan dan rasa cukup. Tentang mencari pasangan jadi salah satu bare minimum untuk sepatutnya banyak aturannya dan banyak selektifnya. 

"Saya jarang beli buah mba, karena uangnya buat suami saya beli rokok."
"Iya mba, soalnya kalau masak, saya ngikut suami mau makan apa."

    Saya yakin, saya harus banyak membaca, mendengar bahkan jalan-jalan untuk melihat seperti ini. Supaya saya punya bekal untuk mendengar tanpa harus membandingkan, supaya saya melihat bukan hanya dengan dua mata tetapi dengan sudut pandang yang lain, supaya saya bersyukur dan supaya saya merasa cukup. Saya tidak menyinggung pihak manapun, ini hanya refleksi dari sudut pandang yang sempit, tetapi pernyataan itu lahir dan sebuah tanya yang belum menemukan jawaban, dari keinginan rasa cukup yang terus di usahakan. Saya percaya, bahwa mengambil keputusan dalam memilih pasangan, sama dengan memilih 'mau masalah' apa yang akan dihadapi, bahkan memilih keputusan apa yang akan siap dijalani. Yaelah, kaya orang gede aja
    Saya sudah baca tulisan ini, semoga ini hanya prolog. Untuk tulisan yang 'sedikit' lebih serius akan lahir. Tetapi dalam proses mengembara ini, saya berterima kasih pada seluruh manusia yang tidak sukar memberi, dengan baik.  
    Pada edisi Mei bercerita ini, semoga bisa terus tumbuh di hari-hari yang lain juga. Sampai bertemu pada paragraf yang lain teruntuk tokoh dan tempat-tempat seru bahkan pada 'point of view' yang lain. Terima kasih sudah membaca sampai akhir pada tulisan saya yang masih terbata-bata ini. Klau ketemu yang buruk ditinggal saja ya, kalaudapat yang baik. Semoga jangan dibuang

Komentar